<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Imadeharyoga's blog &#187; Gede Prama</title>
	<atom:link href="http://imadeharyoga.wordpress.com/category/kebijaksanaan-wisdom/gede-prama/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://imadeharyoga.wordpress.com</link>
	<description>cinta adalah sebuah hasrat dan keinginan untuk memberi dan membahagiakan orang atau sesuatu</description>
	<lastBuildDate>Tue, 28 Jul 2009 12:52:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='imadeharyoga.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/0e4877e5eb71063743ef5c355ea80e48?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Imadeharyoga's blog &#187; Gede Prama</title>
		<link>http://imadeharyoga.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://imadeharyoga.wordpress.com/osd.xml" title="Imadeharyoga&#8217;s blog" />
		<item>
		<title>TERBANG DENGAN SAYAP KEBEBASAN</title>
		<link>http://imadeharyoga.wordpress.com/2008/06/17/terbang-dengan-sayap-kebebasan/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.wordpress.com/2008/06/17/terbang-dengan-sayap-kebebasan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 05:39:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imadeharyoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gede Prama]]></category>
		<category><![CDATA[terbang dengan sayap]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Belasan tahun yang lalu, ketika Jaddu Krishnamurti mengetuk pintu kehidupan saya melalui ide provokatif tentang Freedom From The Known, ada bagian-bagian tertentu dari bangunan hidup ini yang berguncang. Bagaimana tidak berguncang, setelah puluhan tahun menghabiskan banyak waktu dan tenaga duduk di sekolah. Ratusan ulangan dan ujian sudah menyita demikian banyak keringat. Jutaan kejadian lewat membawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imadeharyoga.wordpress.com&blog=3982811&post=30&subd=imadeharyoga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span class="verdana8point1"><span style="font-size:11pt;color:#0a2154;font-family:&quot;">Belasan tahun yang lalu, ketika Jaddu Krishnamurti mengetuk pintu kehidupan saya melalui ide provokatif tentang Freedom From The Known, ada bagian-bagian tertentu dari bangunan hidup ini yang berguncang. Bagaimana tidak berguncang, setelah puluhan tahun menghabiskan banyak waktu dan tenaga duduk di sekolah. Ratusan ulangan dan ujian sudah menyita demikian banyak keringat. Jutaan kejadian lewat membawa judul &#8220;pengalaman adalah guru yang terbaik&#8221;. Ribuan jam telah hilang hanya untuk membaca buku, jurnal, majalah, harian, menonton tv, vcd dan masih banyak lagi sumber pengetahuan yang lain. Tiba-tiba ada ajakan dari Krishnamurti untuk membebaskan diri segera dari semua hal yang telah diketahui. <span id="more-30"></span></span></span><span style="font-size:11pt;color:#0a2154;"></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Hanya karena ketika itu umur masih muda, dorongan-dorongan mesin &#8220;kehebatan&#8221; masih menderu-deru, dan sumber motivasi berkarya yang paling banyak ketika itu adalah kekaguman orang lain, jadilah karya Krishnamurti tadi bahan-bahan yang membuat tulisan dan pembicaraan tampak hebat baju luarnya. Sayangnya, di dalamnya kosong melompong. Mirip dengan tong kosong, ketika dibunyikan memang nyaring bunyinya. Sayangnya, ketika dibuka bagian dalamnya. Yang tersisa hanyalah bukan apa-apa. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Mungkin itu yang disebut banyak sahabat bijak dengan perjalanan belajar. Sebagian orang memang mesti melalui tangga-tangga kesombongan yang memalukan. Sebagian malah melalui tangga-tangga kebodohan yang menyakitkan. Dan begitu semua ongkos belajar tadi dibayar, ada pintu-pintu kejernihan yang terbuka dengan sendirinya. Ada guru-guru kebijaksanaan yang mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Ada udara-udara segar keindahan yang masuk melalui lobang-lobang hidung. Demikian juga dengan makanan, semuanya seperti serba enak dan menyehatkan. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Menoleh ke tangga-tangga belajar masa lalu yang demikian memalukan, ada bagian dari diri ini yang tersenyum malu, ada juga bagian lain yang bersyukur. Sebab, ada rangkaian kesombongan yang sudah lewat. Diganti dengan tumpukan pelajaran penting yang membuat gunungan-gunungan kebijakan tambah tinggi. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Dulu, ide tentang membebaskan diri dari segala hal yang diketahui, memang berwajah pemberontakan. Maklum, kaca mata anak muda yang melihatnya memang suka memberontak. Sekarang, ketika kaca matanya sudah diganti dengan kaca mata lain, ide tadi sangat membebaskan. Ia lebih membebaskan dari pintu penjara manapun. Kalau pintu penjara hanya bisa membebaskan badan manusia, dan belum tentu pikiran dan jiwanya. Freedom from the known membebaskan ketiga-tiganya. Seperti malaikat bersayap yang datang dari langit, tiba-tiba ia menyambar dan membawa manusia terbang tingg-tinggi. Dan ketika di atas membekali manusia dengan sayap-sayap kokoh. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Tersentuh oleh kemampuan membebaskan yang demikian mengagumkan inilah, kemudian ada ketekunan untuk menghapus secara perlahan hal-hal yang pernah dicatat dalam memori. Menseleksi pengetahuan dan pengalaman yang ada. Mendudukkan semuanya sebatas sebagai pembantu yang duduk di bawah. Kemudian, berjalan secara perlahan ke depan dengan beban memori yang semakin sedikit. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Coba perhatikan sahabat-sahabat yang mudah kena stress. Atau mereka yang mudah sekali menambah musuh. Atau mereka yang merasa tidak pernah menemukan kebahagiaan. Atau yang paling parah ditimpa penyakit ini itu. Hampir semuanya tidak saja tidak bebas, tetapi juga terbelenggu oleh apa-apa yang mereka ketahui. Ada kejadian-kejadian masa lalu yang membuat perjalanan jadi amat berat. Ada pengetahuan masa lalu yang membuat ukuran dan kriteria di kepala, kemudian membuat hobi menghakimi jadi tambah subur. Dan ujung-ujungnya apa lagi kalau bukan musuh yang bertambah banyak. Ada rangkaian pengalaman yang membuahkan banyak kesedihan, kemudian membuat pemiliknya hidup dari satu penyesalan ke penyesalan yang lain. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Sehingga dalam totalitas, jadilah manusia seperti berjalan dengan beban gendongan yang demikian beratnya. Atau seperti kereta yang menarik demikian banyak gerbong yang tidak perlu. Tidak saja berat, susah berjalan, menghasilkan banyak stress dan penyakit, yang paling penting gagal terbang tinggi-tinggi dalam kehidupan. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Disinari oleh cahaya kejernihan seperti inilah, Krishnamurti seperti hadir kembali dalam pintu kehidupan, mengetuk dan berbisik : &#8220;sudah saatnya terbang!&#8221; Entah ada atau tidak orang yang terketuk oleh Krishnamurti. Yang jelas, apapun kejadian yang telah lewat, manusia manapun tidak bisa kembali untuk memperbaikinya. Berhandai-handai seolah-olah bisa melakukan sesuatu yang lebih baik di masa lalu, hanya akan memperpanjang daftar penyesalan. Neale Donald Walsch penulis Conversation with God yang jernih itu pernah menulis : semuanya sudah sempurna! </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Demikian juga dengan pengetahuan dan pengalaman. Ia tidak lebih dari sekadar jembatan-jembatan pemahaman. Sebagimana jembatan yang sebenarnya, begitu ia berhasil dilewati tidak ada pilihan lain terkecuali meninggalkannya di belakang. Mengingat-ingat serta menghafal pengetahuan secara berlebihan, atau menyimpan rapi pengalaman (baik maupun buruk) dalam kotak memori, mirip dengan memeluk jembatan erat-erat. Kalau kemudian perjalanan terhenti di jembatan, itu adalah harga yang harus dibayar. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Perjalanan hidup memang pilihan sekaligus hak masing-masing orang. Saya sudah lama belajar untuk berhenti menghakimi. Dalam perjalanan belajar berhenti menghakimi ini, ada yang berbisik dari dalam sini : mari kita terbang! Adakah sidang pembaca yang mau ikut ? ***** </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-family:&quot;">Penulis: Gede Prama</span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imadeharyoga.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imadeharyoga.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imadeharyoga.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imadeharyoga.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imadeharyoga.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imadeharyoga.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imadeharyoga.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imadeharyoga.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imadeharyoga.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imadeharyoga.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imadeharyoga.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imadeharyoga.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imadeharyoga.wordpress.com&blog=3982811&post=30&subd=imadeharyoga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.wordpress.com/2008/06/17/terbang-dengan-sayap-kebebasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71e5da00340f484a69bd3ca9faea7314?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imadeharyoga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MERENDAH ITU INDAH</title>
		<link>http://imadeharyoga.wordpress.com/2008/06/16/merendah-itu-indah/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.wordpress.com/2008/06/16/merendah-itu-indah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 04:14:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imadeharyoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gede Prama]]></category>
		<category><![CDATA[merendah itu indah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Di satu kesempatan, ada turis asing yang meninggal di Indonesia. Demikian baiknya turis ini ketika masih hidup, sampai-sampai Tuhan memberikan kesempatan untuk memilih : surga atau neraka. Tahu bahwa dirinya meninggal di Indonesia, dan sudah teramat sering ditipu orang, maka iapun meminta untuk melihat dulu baik surga maupun neraka. Ketika memasuki surga, ia bertemu dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imadeharyoga.wordpress.com&blog=3982811&post=20&subd=imadeharyoga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Di satu kesempatan, ada turis asing yang meninggal di </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Indonesia</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">. Demikian baiknya turis ini ketika masih hidup, sampai-sampai Tuhan memberikan kesempatan untuk memilih : surga atau neraka. Tahu bahwa dirinya meninggal di </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Indonesia</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">, dan sudah teramat sering ditipu orang, maka iapun meminta untuk melihat dulu baik surga maupun neraka. Ketika memasuki surga, ia bertemu dengan pendeta, kiai dan orang-orang baik lainnya yang semuanya duduk sepi sambil membaca kitab suci. Di neraka lain lagi, <span id="more-20"></span>ada banyak sekali hiburan di </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">sana</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">. </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Ada</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">penyanyi cantik dan seksi lagi bernyanyi. </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Ada</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">lapangan golf yang teramat indah. Singkat cerita, neraka jauh lebih dipenuhi hiburan dibandingkan surga.</span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Yakin dengan penglihatan matanya, maka turis tadi memohon ke Tuhan untuk tinggal di neraka saja. Esok harinya, betapa terkejutnya dia ketika sampai di neraka. </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Ada</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">orang dibakar, digantung, disiksa dan kegiatan-kegiatan mengerikan lainnya. Maka proteslah dia pada petugas neraka yang asli </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Indonesia</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">ini. Dengan tenang petugas terakhir menjawab : &#8216;kemaren </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">kan</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">hari terakhir pekan kampanye pemilu&#8221;. Dengan jengkel turis tadi bergumam : &#8216;dasar </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Indonesia</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">, jangankan pemimpinnya, Tuhannya saja tidak bisa dipercaya!&#8217;.</span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Anda memang tidak dilarang tersenyum asal jangan tersinggung karena ini hanya lelucon. Namun cerita ini menunjukkan, betapa kepercayaan (trust) telah menjadi komoditi yang demikian langka dan mahalnya di negeri tercinta ini. Dan sebagaimana kita tahu bersama, di masyarakat manapun di mana kepercayaan itu mahal dan langka, maka usaha-usaha mencari jalan keluar amat dan teramat sulit.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Jangankan dalam komunitas besar seperti bangsa dan perusahaan dengan ribuan tenaga kerja, dalam komunitas kecil berupa keluarga saja, kalau kepercayaan tidak ada, maka semuanya jadi runyam. Pulang malam sedikit, berujung dengan adu mulut. Berpakaian agak dandy sedikit mengundang cemburu.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Di perusahaan malah lebih parah lagi. Ketidakpercayaan sudah menjadi kanker yang demikian berbahaya. Krisis ekonomi dan konglomerasi bermula dari sini. Buruh yang mogok dan mengambil jarak di mana-mana, juga diawali dari sini. Apa lagi krisis perbankan yang memang secara institusional bertumpu pada satu-satunya modal : trust capital.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Bila Anda rajin membaca berita-berita politik, kita dihadapkan pada siklus ketidakpercayaan yang lebih hebat lagi. Polan tidak percaya pada Bambang. Bambang membenci Ani. Ani kemudian berkelahi dengan Polan. Inilah lingkaran ketidakpercayaan yang sedang memperpanjang dan memperparah krisis.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Dalam lingkungan seperti itu, kalau kemudian muncul kasus-kasus perburuhan seperti kasus hotel Shangrila di Jakarta yang tidak berujung pangkal, ini tidaklah diproduksi oleh manajemen dan tenaga kerja Shangrila saja. Kita semua sedang memproduksi diri seperti itu.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Andaikan di suatu pagi Anda bangun di pagi hari, membuka pintu depan rumah, eh ternyata di depan pintu ada sekantong tahi sapi. Lengkap dengan pengirimnya : tetangga depan rumah. Pertanyaan saya sederhana saja : bagaimanakah reaksi Anda ? Saya sudah menanyakan pertanyaan ini ke ribuan orang. Dan jawabannyapun amat beragam.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Yang jelas, mereka yang pikirannya negatif, &#8217;seperti sentimen, benci, dan sejenisnya &#8216;, menempatkan tahi sapi tadi sebagai awal dari permusuhan (bahkan mungkin peperangan) dengan tetangga depan rumah. Sebaliknya, mereka yang melengkapi diri dengan pikiran-pikiran positif &#8217;sabar, tenang dan melihat segala sesuatunya dari segi baiknya&#8217; menempatkannya sebagai awal persahabatan dengan tetangga depan rumah. Bedanya amatlah sederhana, yang negatif melihat tahi sapi sebagai kotoran yang menjengkelkan. Pemikir positif meletakkannya sebagai hadiah pupuk untuk tanaman halaman rumah yang memerlukannya.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Kehidupan serupa dengan tahi sapi. Ia tidak hadir lengkap dengan dimensi positif dan negatifnya. Tapi pikiranlah yang memproduksinya jadi demikian. Penyelesaian persoalan manapun &#8216;termasuk persoalan perburuhan ala Shangrila&#8217; bisa cepat bisa lambat. Amat tergantung pada seberapa banyak energi-energi positif hadir dan berkuasa dalam pikiran kita.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Cerita tentang tahi sapi ini terdengar mudah dan indah, namun perkara menjadi lain, setelah berhadapan dengan kenyataan lapangan yang teramat berbeda. Bahkan pikiran sayapun tidak seratus persen dijamin positif, kekuatan negatif kadang muncul di luar kesadaran.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Ini mengingatkan saya akan pengandaian manusia yang mirip dengan sepeda motor yang stang-nya hanya berbelok ke kiri. Wanita yang terlalu sering disakiti laki-laki, stang-nya hanya akan melihat laki-laki dari perspektif kebencian. Mereka yang lama bekerja di perusahaan yang sering membohongi pekerjanya, selamanya melihat wajah pengusaha sebagai penipu. Ini yang oleh banyak rekan psikolog disebut sebagai pengkondisian yang mematikan.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Peperangan melawan keterkondisian, mungkin itulah jenis peperangan yang paling menentukan dalam memproduksi masa depan. Entah bagaimana pengalaman Anda, namun pengalaman saya hidup bertahun-tahun di pinggir sungai mengajak saya untuk merenung. Air laut jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan air sungai. Dan satu-satunya sebab yang membuatnya demikian, karena laut berani merendah.</span></p>
<p><span class="verdana8point1">Demikian juga kehidupan saya bertutur. Dengan penuh rasa syukur ke Tuhan, saya telah mencapai banyak sekali hal dalam kehidupan. Kalau uang dan jabatan ukurannya, saya memang bukan orang hebat. Namun, kalau rasa syukur ukurannya, Tuhan tahu dalam klasifikasi manusia mana saya ini hidup. Dan semua ini saya peroleh, lebih banyak karena keberanian untuk merendah.</span></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Ada</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">yang menyebut kehidupan demikian seperti kaos kaki yang diinjak-injak orang. Orang yang menyebut demikian hidupnya maju, dan sayapun melaju dengan kehidupan saya. Entah kebetulan entah tidak. Entah paham entah tidak tentang pilosopi hidup saya seperti ini. Seorang pengunjung web site saya mengutip Rabin Dranath Tagore : &#8216;kita bertemu yang maha tinggi, ketika kita rendah hati&#8217;. ***</span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">by Gede Prama</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imadeharyoga.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imadeharyoga.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imadeharyoga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imadeharyoga.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imadeharyoga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imadeharyoga.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imadeharyoga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imadeharyoga.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imadeharyoga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imadeharyoga.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imadeharyoga.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imadeharyoga.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imadeharyoga.wordpress.com&blog=3982811&post=20&subd=imadeharyoga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.wordpress.com/2008/06/16/merendah-itu-indah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71e5da00340f484a69bd3ca9faea7314?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imadeharyoga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>GENTA-GENTA SIWA-BUDDHA</title>
		<link>http://imadeharyoga.wordpress.com/2008/06/16/genta-genta-siwa-buddha/</link>
		<comments>http://imadeharyoga.wordpress.com/2008/06/16/genta-genta-siwa-buddha/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Jun 2008 03:59:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>imadeharyoga</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gede Prama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://imadeharyoga.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[
Pluralitas alias penghargaan atas perbedaan, itulah salah satu tiang utama masyarakat modern. Demokrasi yang menjadi salah satu barometer terpenting peradaban modern, juga berdiri di atas fundamen kokoh yang bernama pluralitas. Sulit sekali membayangkan ada demokrasi tanpa penghargaan atas perbedaan. Tidak saja kehidupan publik yang keajegannya berutang pada pluralitas, sejarah pengetahuan manusia juga berutang. Setelah lama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imadeharyoga.wordpress.com&blog=3982811&post=18&subd=imadeharyoga&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if !mso]&gt;--></p>
<p><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Pluralitas alias penghargaan atas perbedaan, itulah salah satu tiang utama masyarakat modern. Demokrasi yang menjadi salah satu barometer terpenting peradaban modern, juga berdiri di atas fundamen kokoh yang bernama pluralitas. Sulit sekali membayangkan ada demokrasi tanpa penghargaan atas perbedaan. Tidak saja kehidupan publik yang keajegannya berutang pada pluralitas, sejarah pengetahuan manusia juga berutang. Setelah lama sekali pemikiran Cartesian dan Newtonian melakukan pengabsolutan terhadap banyak sekali tesis, belakangan muncul kejenuhan akan hal-hal absolut. Dan, manusia-manusia seperti Lyotard, Foucault, Derrida datang membawa kesegaran melalui bendera-bendera merayakan perbedaan. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Agama sebagai serangkaian pengetahuan juga serupa. Teroris lengkap dengan bom dan darahnya,</span><span id="more-18"></span><span class="verdana8point1"> hanyalah sisa-sisa fanatisme yang dibawa oleh sejarah pemahaman yang absolut. Demikian absolutnya pemahaman di kepala sampai-sampai berani memusnahkan nyawa orang lain. Demikian kakunya gambar yang ada di kepala, sehingga seluruh gambar pemahaman yang lain tidak punya pilihan lain terkecuali dimusnahkan. Dan, jejak-jejak pemahaman agama seperti ini pun sudah semakin minim pengikutnya. </span></p>
<p><span class="verdana8point1">Dikaguminya tokoh-tokoh Sufi seperti Jalaludin Rumi di Barat, demikian berwibawanya karya-karya Kahlil Gibran di banyak belahan dunia, dikutipnya doa Santo Fransiscus dari Asisi tidak saja dalam kalangan umat Katolik, dugunakannya Baghawad Gita sebagai acuan tidak saja dalam komunitas Hindu, didengarnya pesan-pesan Dalai Lama oleh banyak sekali manusia yang bukan beragama Buddha, hanyalah sebagian bukti kalau tembok-tembok fanatisme semakin kecil dan semakin kecil. Sehingga dalam totalitas, hanya manusia-manusia yang enggan bertumbuhlah yang masih memeluk erat-erat fanatisme dan absolutisme. </span></p>
<p><span class="verdana8point1">Sejarah Bali </span></p>
<p><span class="verdana8point1">Dengan tetap sadar akan perlunya kerendahatian di depan bentangan sejarah, sebenarnya sejarah Pulau Bali juga menyisakan tidak sedikit jejak-jejak pluralitas. Tokoh-tokoh yang dicatat rapi dalam sejarah </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">, sebagian adalah tokoh-tokoh pluralitas. Mpu Kuturan (seorang pendeta Buddha Mahayana) menyatukan banyak sekali sekte di abad ke-10-11 melalui konsep tri kahyangan. Kalau saja Mpu Kuturan seorang tokoh fanatik dan pengikut pendekatan absolut, mungkin ketika itu orang </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;"> akan dipaksa (atau setidak-tidaknya dipersuasi) untuk menjadi pemeluk Budhha Mahayana. Ternyata sejarah bertutur tidak. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Dang Hyang Dwijendra juga serupa. Kendati punya reputasi mengagumkan dalam bentuk mendampingi Raja Dalem Waturenggong membawa Bali ke zaman keemasan di abad ke-16, peninggalan Mpu Kuturan dalam bentuk Meru tetap dihormati, bahkan dilengkapi melalui bangunan baru ketika itu berupa Padmasana. Kendati beliau seorang pendeta Siwa-Buddha tetap saja pendekatan lain memiliki</span><br />
<span class="verdana8point1">ruangan untuk bertumbuh di </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;"> ketika itu. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Tempat ibadah adalah ruang-ruang sakral di </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">. Dan, tatkala berbicara tentang tempat ibadah, sulit sekali untuk tidak memulainya dengan Pura Rwa Bhineda (Pura Purusa di Besakih, Pura Pradana di Ulun Danu Batur). Dan, indahnya, di kedua tempat suci ini di ruang utamanya juga menghadirkan monumen pluralitas yang amat mengagumkan. Baik di Besakih maupun di Ulun Danu Batur, di ruang utamanya masih menyisakan tempat pemujaan untuk dua agama (Hindu dan Buddha). Di Besakih disebut Pura Syahbandar (lokasinya hanya beberapa meter dari Pura Sunaring Jagat), di Batur disebut Pura Ponco yang juga berlokasi di tempat yang sangat utama. Di Pura Ulunsiwi di Jimbaran ada dua pintu di bagian timur dari Meru, satu untuk Siwa satu lagi untuk Buddha. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Selain tokoh dan tempat ibadah, sastra tetua </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;"> juga banyak ditandai pluralitas. Suthasoma adalah salah satu sastra acuan yang utama. Melalui kalimat indah bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, sebenarnya tetua </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;"> sedang membukakan pintu-pintu pluralitas yang demikian indahnya. Fred B. Eisman Jr. menerjemahkannya dalam </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">, &#8221;Sekala &amp; Niskala&#8221; dengan sederhana: it is different, but it is one, there are not two truth. Sebuah pengakuan akan pluralitas Siwa-Buddha yang amat eksplisit. Siwa-Buddha itu satu, bukan dua. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Sarana upacara juga tidak kalah sakralnya bagi orang </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">. Dan, di antara sekian banyak sarana upacara yang disakralkan adalah genta. Meminjam argumen sebuah tesis di Universitas Gajah Mada tahun 1967 yang ditulis oleh IGN Anom, ternyata genta &#8212; yang dipercaya sebagai kendaraan mantra yang sangat utama &#8212; dibuat di atas pluralitas juga. Bagian bawah genta menyerepai Stupa, bagian atasnya sangat mirip dengan Lingga sebagai simbolik Siwa. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Potret-potret sejarah dalam bentuk tokoh, tempat ibadah, sastra, dan sarana upacara seperti ini, seperti sedang berbisik penuh kerendahanhatian: tidak saja di Barat pluralitas itu menjadi ladang-ladang subur pertumbuhan, </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;"> juga serupa. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Genta-genta Siwa-Buddha </span></p>
<p><span class="verdana8point1">Disinari cahaya-cahaya sejarah seperti di atas, layak direnungkan kembali perjalanan sejarah </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;"> yang sebagian juga berdarah karena absolutisme dan fanatisme. Setiap manusia di setiap sejarah sama-sama punya tugas yang sama: bertumbuh! Dan, </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;"> dalam bentangan sejarah ratusan tahun bertumbuh di atas pluralitas Siwa-Buddha. Dalam konstruksi genta, Siwa-Buddha memang dibaca dari atas (baca: Siwa) kemudian baru ke bawah (baca: Buddha). Namun, sebagaimana bangunan lainnya, semuanya dibangun dari bawah. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Kebenaran manusia mana pun memang hanya bisa sampai di tingkatan probabilistik. Sehingga bisa dimaklumi, kalau Buddha ditafsirkan secara berbeda-beda di </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">. Pandangan pertama mengatakan kalau Buddha kita di Bali adalah Buddha Bairawa. Sebuah sudut pandang yang layak dihargai. Pandangan kedua yang sama layaknya untuk dihargai adalah Buddha sebagai filsafat. Kembali ke konsep pluralitas sebagai lahan-lahan subur pertumbuhan, mungkin ada baiknya untuk saling menghargai. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Di Barat, ada jutaan manusia yang belajar Bhagawad Gita tanpa masuk agama Hindu. Jutaan manusia tersentuh ajararan Sufi ala Rumi tanpa berganti agama menjadi Islam. Jutaan manusia mendengarkan saran-saran Dalai Lama tanpa berganti KTP menjadi Buddha. Hal serupa juga layak direnungkan ketika kita belajar membunyikan genta-genta Siwa Buddha di Bali. </span></p>
<p><span class="verdana8point1">Entah kekuatan apa yang membimbing, sejak belasan tahun yang lalu, tiba-tiba saja ada ketertarikan yang mendalam untuk belajar Buddha sebagai filsafat hidup. Makin dipelajari, makin sejuk batin di dalam, makin kuat tanah-tanah </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;"> mengirim pesan-pesan kerinduan untuk sering pulang. Menyangkut getaran-getaran rasa, mungkin saja ada kekhilafan penafsiran, namun setelah belasan tahun menelusuri filsafat-filsafat Buddha, ada yang berbisik dari dalam sini: </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:blue;">words make you come closer but jus till the gate, only actions bring you inside. Kata-kata memang bisa membuat manusia mendekat, tetapi hanya sampai di gerbang. Hanya tindakan yang bisa membawa manusia masuk ke dalam</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">. </span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Dan, filsafat Buddha memberikan penekanan amat besar akan perlunya tindakan. Untuk itulah orang-orang Hinayana memberikan porsi sangat besar untuk sebuah bidang: disiplin diri! Ketika disiplin diri diikuti secara serius, cahaya-cahaya Mahayana muncul melalui sebuah kata: kebijaksanaan. Tatkala ini juga ditelusuri penuh cinta dan keikhlasan di depan Tuhan, ada sinar Tantrayana yang muncul: hening, sepi, damai. </span></p>
<p><span class="verdana8point1">Makanya bisa dimaklumi kalau Dalai Lama pernah berucap tentang esensi nilai-nilai ke-Buddha-an dalam sebuah bahasa sederhana</span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:blue;">: menghormati orang, mengkritik diri sendiri</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">. Ini tentu saja terbalik dengan orang-orang fanatik yang absolut itu, di mana mereka hanya mengenal penghormatan diri yang tinggi, serta kritik yang menyakitkan terhadap orang lain. Ini juga sebuah pluralitas sebagai ladang pertumbuhan, sehingga keduanya layak dihargai. Entah seberapa banyak sahabat di Bali yang juga menaiki tangga-tangga ke-Buddha-an, untuk bisa meraih tongkat Lingga untuk sampai di tingkat ke-Siwa-an. Dan, di tingkat terakhir, seorang mistikus asli India bernama Ramakrishna pernah melafalkan doa seperti ini: </span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:blue;">Tuhan, Engkau memiliki baik-buruk, benar-salah, sukses-gagal, kaya-miskin, surga-neraka, hidup-mati, siang-malam. Ambillah semuanya! Biarlah hamba hidup dengan yang satu ini: cinta yang murni akan diri-Mu!</span></span></p>
<p><span class="verdana8point1">Sebuah percakapan suci antara Raja Janaka (ayahanda Dewi Sita) dengan gurunya bernama Asthavakra kemudian diberi judul &#8221;Asthavakra Gita&#8221; (diterjemahkan Thomas Byron menjadi &#8221;The Heart of Awareness&#8221;), pernah bertutur nilai-nilai ke-Siwa-an seperti ini: when the mind desire nothing, grieve for nothing, without joy or anger, grasping nothing, turns nothing away then you are free. Ketika pikiran berhenti memilih, berhenti merindukan maupun menolak kemudian tersedia kebebasan. Ah, betapa indahnya kebebasan. Ia sama indahnya dengan salah satu bait kakawin tua di </span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;">Bali</span></span><span class="verdana8point1"><span style="font-size:8pt;color:#0a2154;"> yang berbunyi: magentha suara ning sepi. Ah, maafkanlah kata-kata yang hanya bisa mengantar kita manusia sampai di gerbang saja. Maafkan juga tulisan ini yang dibolak-balik juga hanya bisa mengantar sampai di gerbang saja. Maafkan juga saya, yang hanya bisa mengantar sampai di gerbang saja.(*)</span></span></p>
<p>oleh Gede Prama</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/imadeharyoga.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/imadeharyoga.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/imadeharyoga.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/imadeharyoga.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/imadeharyoga.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/imadeharyoga.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/imadeharyoga.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/imadeharyoga.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/imadeharyoga.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/imadeharyoga.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/imadeharyoga.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/imadeharyoga.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=imadeharyoga.wordpress.com&blog=3982811&post=18&subd=imadeharyoga&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://imadeharyoga.wordpress.com/2008/06/16/genta-genta-siwa-buddha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/71e5da00340f484a69bd3ca9faea7314?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">imadeharyoga</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>